Berdasarkan prinsip pengelolaannya, terdapat 2 jenis SBN yaitu konvensional dan syariah. SBN konvensional meliputi produk Savings Bond Ritel (SBR) dan Obligasi Negara Ritel Indonesia (ORI). Serta SBN syariah meliputi produk Sukuk Tabungan (ST) dan Sukuk Ritel Indonesia (SR). Berikut penjelasannya:

Savings Bond Ritel (SBR)

Kepemilikan SBR tidak dapat dipasarkan kembali di pasar sekunder, namun kamu dapat melakukan early redemption sebelum jatuh tempo, maksimal sebesar 50% dari jumlah kepemilikan SBR yang kamu miliki. Produk SBR jatuh tempo/memiliki tenor selama 2 tahun, dengan maksimal pembelian sebesar Rp 3 miliar (Sesuai Memorandum Informasi) . Selain itu, produk SBR juga memiliki jenis imbal hasil floating rate.

Obligasi Negara Ritel Indonesia (ORI)

Kepemilikan ORI dapat dijual kembali di pasar sekunder, dengan potensial capital gain atau capital loss. Selain itu, produk ORI memiliki jenis imbal hasil fixed rate.

Sukuk Tabungan (ST)

Produk ST memiliki ciri-ciri yang sama dengan produk SBN, perbedaannya hanya terdapat pada pengelolaannya yang menggunakan sistem syariah. ST memiliki underlying asset berupa aset berwujud yang nantinya disewakan kepada pemerintah. Sama dengan produk SBN, produk ST tidak dapat dijual di pasar sekunder dan early redemption dapat dilakukan maksimal 50% dari jumlah kepemilikan ST yang kamu miliki. Selain itu, produk ST memiliki jenis kupon floating with floor.

Floating with Floor adalah kupon mengambang dengan batas minimum. Jika suku bunga acuan naik maka kupon bisa disesuaikan naik, tetapi bila acuan turun maka kupon tidak akan turun lebih rendah dari batas minimal.

Sukuk Ritel Indonesia (SR)

Produk SR mirip dengan produk ORI, yaitu dapat dijual di pasar sekunder dengan potensi capital gain dan capital loss. Selain itu, produk SR juga memiliki jenis imbal hasil fixed rate. Perbedaannya terdapat pada pengelolaan produk SR yang menggunakan sistem syariah.
Apakah artikel ini berguna?
Membatalkan
Terima kasih!